Khutbah Jumat: Ujian Keimanan dan Musibah Agama
Khutbah Jumat: Ujian Keimanan dan Musibah Agama ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 6 Rajab 1447 H / 26 Desember 2025 M.
Khutbah Jumat Pertama: Ujian Keimanan dan Musibah Agama
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155)
Manusia tidak seharusnya mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja hanya dengan mengatakan telah beriman, sementara mereka belum diberikan ujian dan cobaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الم ﴿١﴾ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿٣﴾
“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut[29]: 1-3)
Para nabi adalah manusia yang mendapatkan ujian paling berat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang serupa dengan mereka dan yang serupa dengan mereka.” (HR. Tirmidzi)
Hakikat ujian tersebut berfungsi untuk mengangkat derajat dan menggugurkan dosa bagi orang-orang yang beriman. Pada zaman ini, berbagai macam bencana terjadi karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa di antara tanda hari kiamat adalah banyaknya terjadi gempa bumi. Beliau bersabda:
لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلازِلُ
“Hari kiamat tidak akan terjadi sampai ilmu diangkat dan banyak terjadi gempa bumi.” (HR. Bukhari)
Bencana-bencana tersebut bertujuan agar manusia paham dan sadar bahwa hidup di dunia tidak akan lama. Kehidupan dunia tidak kekal, sedangkan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi. Kesadaran akan banyaknya bencana dan musibah di dunia seharusnya membuat hati tidak merasa betah dengan kehidupan dunia dan lebih fokus pada amalan akhirat. Hal itulah yang menjadi tujuan hidup yang sebenarnya.
Musibah dunia pasti akan terjadi. Barangkali saat ini menimpa orang lain di tempat yang jauh, namun suatu ketika hal itu bisa saja menimpa diri sendiri. Oleh karena itu, persiapan diri dengan keimanan dan ketakwaan menjadi sebuah kewajiban. Perlu dipahami bahwa musibah dunia jauh lebih ringan dibandingkan dengan musibah yang menimpa agama. Musibah agama adalah hal yang paling ditakutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga beliau berdoa:
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا
“Dan janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami.” (HR. Tirmidzi)
Lihat juga: Bahaya Musibah Yang Menimpa Agama – Khutbah Jum’at
Musibah agama dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam kesyirikan, senang berbuat kemaksiatan, serta berpaling dari ketaatan. Hal ini membuat seseorang lebih mengutamakan syahwat dan hawa nafsu sehingga tidak peduli dengan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setan kemudian menghiasi dirinya dengan angan-angan seakan ia akan hidup selamanya di dunia, sehingga ia lupa dan tidak ingin kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adakah musibah yang lebih berat daripada musibah agama? Jika musibah dunia dapat menggugurkan dosa dan mengangkat derajat, maka musibah agama justru menghancurkan serta meluluhlantakkan keimanan. Apabila seseorang meninggal dalam keadaan tersebut, ia akan diazab dalam kubur dan api neraka.
Upaya menyelamatkan agama jauh lebih penting daripada sekadar urusan duniawi. Sebagaimana keinginan untuk menjaga kelestarian hutan agar tidak terjadi bencana alam, maka kelestarian agama dan keimanan di dalam hati juga harus dijaga agar selamat di dunia dan akhirat. Orang-orang yang selamat adalah mereka yang berpegang teguh kepada tali yang kuat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
…فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Barangsiapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, ia telah berpegang teguh kepada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 256)
Seorang mukmin wajib mengingkari segala bentuk kesyirikan dan tidak ridha apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala disekutukan. Keyakinan yang benar adalah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan disembah. Adapun selain Allah itu batil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ…
“Demikianlah, karena Allah, Dialah yang hak (benar) dan apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil.” (QS. Al-Hajj[22]: 62)
Agama yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah Islam. Sebagai seorang Muslim, harus ada keyakinan kuat bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak disembah. Dan ia tidak ridha melihat kesyirikan sebagaimana langit, bumi dan gunung tidak ridha dengan kesyirikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai betapa dahsyatnya ucapan orang-orang yang mengeklaim bahwa Dia mempunyai anak. Langit hampir pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung hancur akibat ucapan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا ﴿٩١﴾
“Hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh karena ucapan itu, karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” (QS. Maryam[19]: 90-91)
Apabila langit hampir pecah, bumi hampir terbelah, dan gunung-gunung hampir hancur akibat anggapan bahwa Allah mempunyai anak, maka sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang Muslim tidak boleh ridha terhadap kesyirikan. Barang siapa yang berbuat syirik, ia tidak akan masuk surga selama-lamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
…إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ…
“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 72)
Jalan keselamatan di dunia dan akhirat hanyalah dengan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan. Dengan cara itulah agama akan selamat. Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan bahwa orang yang mentauhidkan-Nya akan diselamatkan di dunia dan akhirat.
Khutbah Jumat Kedua: Ujian Keimanan dan Musibah Agama
Musibah terbesar adalah ketika seorang hamba dipalingkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lebih senang berbuat kesyirikan. Apabila nama Allah Subhanahu wa Ta’ala disebutkan, hati orang tersebut menjadi panas dan marah. Namun, ketika disebut nama selain Allah, ia justru merasa bergembira. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ ﴿٤٥﴾
“Dan apabila nama Allah saja yang disebut, maka hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat itu merasa sangat tidak senang. Namun apabila nama-nama selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira.” (QS. Az-Zumar[39]: 45)
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Pencipta langit dan bumi, sementara selain-Nya hanyalah makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ…
Karena Allah satu-satunya yang menciptakan langit dan bumi, sedangkan yang lain adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesadaran ini menuntut setiap hamba untuk hanya beribadah dan menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Penghambaan tersebut tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, bukan kepada hawa nafsu, dunia, harta, maupun jabatan. Barang siapa yang menghambakan dirinya kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengadzabnya di dunia dan akhirat.
Download mp3 Khutbah Jumat: Ujian Keimanan dan Musibah Agama
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Ujian Keimanan dan Musibah Agama” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55928-khutbah-jumat-ujian-keimanan-dan-musibah-agama/